Drama Bus Malam : Hati – Hati Dengan Mulutmu


Sebenarnya kisah konyol ini, bagian dari pengalaman sewaktu mengikuti The Extreme Journey Across Asia, yang bahkan ceritanya belum gue posting sampe sekarang *merasa gagal sebagai blogger*, tapi masih pada mau penasaran dan mauΒ  baca kisah gueΒ  kan, okeh sok kita mulai ceritanyaaah !

Sore di alun – alun Sapa


Pagi hari, tim gue terbangun, dinginnya suasana pegunungan di perkampungan suku Black Hmong, Sapa, Vietnam tak membuat kami malas buat bangun pagi, yah bisa dibilang sih mau ga mau harus bangun, karena pagi ini kami akan menerima tantangan baru yang harus dijalani.

Entah apa dan kemana tantangan baru akan membawa kami, kami tak akan tahu, sampai akhirnya kami menerima amplop tantangan ! deg – degan, kami perlahan membuka amplop tersebut, setelah membaca dengan seksama, dalam hati gue teriak girang, pagi ini kami diharuskan pindah negara, menuju Uodomxai yang berada di negara Laos !

ganja7
nih kerjaan warga di Sa Pa, manen ganja πŸ™‚

Setelah take adegan buat kebutuhan panitia, segera gue dan tim turun menuju jalanan besar, mencari tumpangan gratisan buat menuju Kota Sapa. Kami kembali menuju Kota Sapa, karena dari hasil browsing sebentar yang kami lakukan, untuk menuju Uodomxai, kami harus mencari bus di Kota Sapa yang menuju Dien Binh Phu, baru setelahnya sambung dengan bus lain yang menuju Uodomxay.

Sedikit berebutan dengan tim lain, akhirnya kami mendapatkan tumpangin mobil menuju Kota Sapa, itupun kami harus rela berbagi dengan tim lainnya. Perjalanan singkat menuju Kota Sapa kami isi dengan diskusi diam – diam, langkah apa yang harus kami ambil begitu sampai di Kota Sapa. Singkat cerita, akhirnya kami sampai di Kota Sapa, bergegas kami menuju Tourist Information Centre mencari tahu kapan ada jadwal untuk keberangkatan bus menuju Dien Binh Phu, untungnya petugas disana bisa berbahasa inggris dengan baik, sehingga kami tak ada kendala dalam komunikasi.

img_0478
alun-alun kota Sa Pa
img_0517
Rutinitas warga Sa Pa

Menurut info dari petugas, bus berikutnya akan datang pada pukul 5 sore dengan biaya sekitar 150.000 Viet Dong per orang, menggunakan sleeper bus. Buat yang belum tahu apa itu sleeper bus, itu sejenis bus dengan kapasitas terbatas yang super nyaman, soalnya kita bisa tiduran karena tempat duduknya sudah diganti menjadi ranjang – ranjang susun, sebelumnya kami pernah pakai saat dari Ninh Binh menuju Sapa.

Berhubung kami tiba pagi sekitar jam 10 di Tourist Information Centre, kami punya waktu sekitar 7 jam buat istirahat dan menunggu bus. Maka, dimulailah ke-mati gaya-an kami disana, mondar – mandir keliling komplek, numpang mandi dan wifi-an, foto – foto sudah kami lakukan semua, sampai akhirnya Tourist Information Centre tutup dan kami harus menunggu di pinggir jalan, sebelumnya petugasnya berjanji buat menemani kami menunggu bus. Jam 5 sore bus belum datang juga, kami sudah mulai gelisah dan sibuk bertanya ke petugas, yang mengatakan bus sedang dalam perjalanan. Sampai akhirnya pukul setengah 7 malam bus datang juga ! beuuh ternyata disini ada budaya ngaret juga ya *KZL ZBL*

C360_2014-08-02-13-33-43-534

Tourist Information Centre di Sa Pa

img_0075
nunggu bus di sini

Bersiap masuk bus, eeh kok ada penampakan orang yang kita kenal !? ternyata tim lainΒ  menunggu bus yang sama dengan kami ! ga itu juga, panitia dan cewek wartawan yang bertugas meliput, juga satu bus dengan kami !! haha, rasanya perjalanan bakalan lebih berwarna deh.

Gue dan semuanya langsung naik ke dalam bus, mencari posisi strategis buat diri masing – masing, gue memilih dibagian pinggir kiri, disebelah gue, dibagian tengah, ada Shafa, wartawan yang bertugas meliput kami, sebelahnya lagi anggota tim gue, Seto. Yang lain, entah pada nyebar masing – masing.

Awalnya bus masih sepi, dan mulai berjalan, gue yang sudah bersiap – siap untuk tidur, kaget saat bus tiba – tiba berhenti, masa sih sudah sampai, kan ga mungkin?! pertanyaan dalam otak gue terjawab saat ibu – ibu, yang rupanya calo, menaikkan banyaaaak sekali penumpang lain, padahal bus tempat tidurnya sudah penuh ! ternyata mereka adalah penumpang tambahan yang membeli tiket dengan harga jauh lebih murah, mereka ga mendapat fasilitas tempat tidur, cuma dikasih tempat duduk di lorong bus. Bus yang sudah sempit, terasa semakin sempit, suasana yang panas semakin panas karena banyaknya manusia yang berhimpitan.

sleeper_bus2
di dalam sleeper bus (image by google)
Sleeper bus (image by google)

Yang awalnya posisi tidur sudah nyaman, tiba – tiba terasa tidak nyaman, bayangin aja diatas kepala kalian ada kaki, disamping kalian gerak dikit udah nyenggol badan orang lain, parahnya lagi udah panas, bercampur dengan bau kaki orang, iyuuuuuuh !

“rey, posisi makin ga nyaman ya”, sebelah gue, Shafa mulai ngajak ngobrol

“iya nih, mana panas, ini kaki orang nyenggol pala mulu nih”, jawab gue bersungut – sungut.

kami merasa aman ngobrol misah – misuh, secara menggunakan bahasa indonesia, yang kami yakin satu bus ga bakalan ada yang ngerti selain kami sesama Indonesia.

“iya nih, tau nih sebelah gue rese banget ! gue tidur, tangannya kelayapan sana sini, bau pula !”, sungut Shafa dengan suara setengah kencang sambil menutup mulutnya dengan ruff.

“gue jadi kaga bisa tidur nih”, lanjutnya

“yaudah, amanin diri dulu, usahain tidur aja mbak”, jawab gue sambil ikutan tutupin muka pakai slayer dan berbalik memunggungi orang – orang rese yang ada di lorong.

Tak terasa, gue pun tertidur, ga tidur nyenyak juga sih, soalnya beberapa kali gue harus terbangun karena kaki – kaki dan tangan – tangan yang menyenggol dan beberapa kali harus mengatur posisi tidur supaya nyaman lagi. Perjalanan terus berlanjut, diluar jendela, suasana masih gelap. Sepinya jalanan tanpa lampu jalanan di kiri kanan membuat gue kembali tertidur.

Tiba – tiba bus berhenti, dan gue dibangunkan. Suasana sepi dan rupanya sudah pukul 4 subuh, bus berhenti di sebuah rumah makan, waktunya break makan. Tapi, berhubung kami on budget dan ga punya duit lebih, kami hanya mengisi perut dengan air putih dan ban mi yang telah kami beli sebelumnya. Kelar makan, sembari menunggu bus untuk siap berangkat, kami berkumpul dengan panitia dan peserta lain

” eh tau ga, gue ga bisa tidur deh semalaman”, kata Shafa membuka obrolan

“rese banget sih yang disamping – samping gue, tangannya kelayapan sana – sini !”, sahutnya lagi.

“iya gue juga ga bisa tidur nih, panas banget, mana kakinya nyenggol – nyenggol diatas kepala mulu”, kata gue menambahkan.

“iya tuh, itu tuh temennya orang yang itu rese banget !”, kata Shafa sambil menunjuk mas – mas Vietnam yang cengo ngeliatin kita ngobrol dari tadi

“masa sih ? resenya ga ketulungan dong”, jawab gue sembari ketawa.

Kami terus saja ngobrol misah – misuh, tentunya kami berani karena kami yakin tak ada yang akan mengerti obrolan kami. Lagi asyik – asyik ketawa, tiba – tiba….

“permisi, kalian dari Malaysia ya ?”, ada sesosok suara memecah obrolan kami.

Kami terdiam, nah siapa lagi nih yang ngomong bahasa indonesia dengan logat sedikit anehnya. Serentak kami menolehkan kepala, dan….ternyata yang ngomong adalah mas – mas Vietnam yang kami tunjuk – tunjuk dari tadi !! what the hell ?!

“kalian dari Malaysia ya?”, tanyanya lagi.

“eh…bukan, kami dari Indonesia”, jawab kami dengan muka bingung karena masih kaget.

“ooh, Indonesia, Saya dari tadi dengar obrolan kalian, saya mengerti dan bisa bahasa melayu, saya dulu kerja di Malaysia 6 tahun”, sahutnya lagi

“ooh, hehe, kerja apa di Malaysia?”, kami bertanya berusaha memecah awkward feeling yang ada.

“ooh, saya kerja di perusahaan batik sebagai pegawai”, sahutnya lagi

Sebelum perbincangan semakin lama, kami beruntung karena supir bus sudah menyuruh kami kembali masuk. Dia pun masuk ke dalam. Oooh save by the bell.

Masuk ke dalam, kami hanya menoleh dan tersenyum tipis sebentar ke arah mas – mas itu. Kami langsung kembali tidur dan diam ga ngomong lagi. Sekian, dari pada si mas ngelapor ke temannya dan kita dilempar keluar bus, hiiii !

C360_2014-08-03-07-52-56-624
Sampai juga dengan selamat

Moral of the story : jangan yakin di luar negeri ga ada yang ngerti bahasa Indonesia, lebih aman ngobrol atau ngegosip pake bahasa sandi, hehe !

Iklan

16 thoughts on “Drama Bus Malam : Hati – Hati Dengan Mulutmu

  1. Habib Tri Zaka berkata:

    Mas, ini kan saya dapat tugas tentang pengembangan pariwisata. Nah, saya kan dari Tuban, terus mau ngangkat goa ngerong. Saya sudah tanya sana-sini sama gugling. Pas gugling, eh nemu nama masnya pernah kesana.. Boleh bagi info dong mas yaa.. πŸ˜€

    Suka

  2. ketikakubicara berkata:

    Wadehh ngebayangin kondisi busnya parah juga yah dan gak pake AC yah jadi panas gitu..yang paling prokem itu calonya emak-emak hahaha..bisa dapet penumpang banyak lagi Good Job Mak! Emang female traveler paling gak enak klo jadi sasaran kejadian yang aneh-aneh di fasilitas publik kaya tangan yang kelayapan itu, kita harus berani ngomelin ituh orang yang “usil” sama wanita. Btw pernah naik kereta Matarmaja sebelum dikasi AC kondisinya full gak keruan sampe tukang jualan naek-naek ke kursi yang gue duduki pas tengah malam buat tetap jualan! Yang ada gue teteupp puless..anugrah skill tidur pules yang kadang saya syukuri perjalanan sengsara jadi gak berasa πŸ˜€

    Suka

  3. rizka berkata:

    Waaah sleeper bus model kitu kan tanpa ada orang tambahan yg duduk di lorong pun udah terasa armpit. Gak kebayang bau sikil sepanjang malam.. hahaha
    Btw aku juga selalu ngedumel pake bahasa Indonesia kalau lagi di luar negeri. Pernah lagi misuh2 ama cewek di depan aku persis yg abis rebutan kursi kereta, tahunya doi orang Jogja. Untungnya dia ngirain aku orang Malaysia, jadi aku iya2in aja biar cepet tuntas malunya :))

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s