Menyusuri Asia Afrika Hingga Menjadi Anak Gaul Bandung !


Pertama kali menginjakkan kaki di Bandung, sumpah gue bingung mau kemana aja. Efek jalan-jalan impulsive sih, tanpa perencanaan sama sekali.

Oleh saran teman – teman grup Travel Blogger Indonesia, gue disaranin ke Asia Afrika dan Braga. Maka, besok paginya, bareng seorang teman gue, Diki, berangkatlah kami menuju Asia Afrika. Asia Afrika? ada apa di sana?

Pagi, sekitar pukul 9 kami berangkat dari daerah Dayeuh Kolot menuju Asia Afrika, beuuh bayangan akan Kota Bandung yang dingin, mendadak hilang dari pikiran.

Panas dan macet banget adalah kesan baru yang masuk ke dalam otak gue ! Gilanya lagi, motor dan mobil pun ugal-ugalan ! Pengendara motor banyak yang asal nyalip dan nyelip diantara ramainya kendaraan. Dalam hati, gue berdoa semoga bisa selamat sampai tujuan.

Ga lama, akhirnya kami sampai di Jalan Asia Afrika, dan gue suka dengan suasananya, suasana kota tua !

Masih banyak bangunan – bangunan dengan desain jaman dahulu, aah pokoknya keren deh !

Setelah memarkir motor, oleh Diki, gue diajak menuju Museum Konferensi Asia Afrika. Buat yang belum tahu, Museum Konferensi Asia Afrika ini merupakan salah satu museum yang berada di Kota Bandung, Museum ini terletak di Jalan Asia Afrika no. 65. Museum ini merupakan memorabilia Konferensi Asia Afrika.

Konferensi Asia Afrika sendiri adalah konferensi dalam upaya mempersatukan sikap dan menyusun pedoman kerja sama di antara bangsa – bangsa Asia Afrika maupun dalam ikut serta membantu terciptanya ketertiban dan perdamaian dunia. Konferensi ini melahirkan Dasa Sila Bandung yang akhirnya menjadi pedoman bangsa – bangsa terjajah di dunia dalam perjuangan memperoleh kemerdekaannya dan yang kemudian menjadi prinsip – prinsip dasar dalam usaha memajukan perdamaian dan kerja sama dunia.

Memasuki pintu gedungnya, udara berasa sejuk, yaiyalah soalnya ber-AC sih, beda kaya di luar yang panas, hehe. Sebelum keliling, kami mengisi buku tamu dulu dan mengambil beberapa brosur. Tampak suasana museum saat itu lenggang sekali, selain kami hanya ada 2 orang lokal dan 3 turis asing bersama guidenya.

Isi dari museum ini sangat bagus, tampak foto-foto yang berkaitan dengan acara konferensi, ada juga cuplikan-cuplikan artikel tentang konferensi.

Yang paling menarik, ada juga rekaman asli pidato Presiden Soekarno pada saat konferensi berlangsung. Yang inti dari pidatonya adalah pesan moral bagi kedamaian dunia *ini aslinya gue lupa pidatonya persisnya gimana*

Perjalanan gue lanjutkan ke aula konferensi yang asli gede banget, menurut seorang pegawai yang ada di sana, kursi dan segala yang ada di aula ini, asli yang digunakan pada saat konferensi berlangsung. Bisa dibayangkan suasananya berlangsung penuh semangat pada saat konferensi berlangsung.

Akhirnya, perjalanan kami di museum berakhir, kembali lagi deh keluar gedung, suasananya panas lagi. Sesuai rencana awal, perjalanan kami lanjutkan ke jalan Braga.

Berjarak sekitar 10 menit berjalan kaki, sampailah kami di Braga. Sebenarnya, ini hanya jalanan biasa aja sih, mirip seperti Malioboro di Jogja, banyak hotel, cafe, dan resto. Suasananya sih asyik, tapi kalau malam bakal lebih happening lagi kata si Diki.

Berhubung lelah jalan kaki, dan suasana panas bikin haus banget, maka mampirlah kami ke salah satu cafe. Nama cafenya, Hangover, beuh ngeri yak ? Ternyata namanya sesuai dengan isi dagangannya, minuman yang ga pake label MUI alias alkohol semua ! Maka, gue dan Diki yang hobi khilaf, menghabiskan waktu sejenak ngebir di dalam cafe.

Sedikit hangover, kami melanjutkan kembali berjalan balik ke arah Asia Afrika untuk mengambil motor.

“Sekarang kita ke Ciwalk aja ya bang, belum sah loh ke Bandung, kalau ga ke Ciwalk”, kata si Diki.

“Oke Dik, terserah elu aja deh”, jawab gue.

Dan, motor pun melaju ke arah Ciwalk. Ciwalk adalah Mall yang entah kenapa terkenal banget dikalangan para wisatawan, terutama buat nubi seperti gue yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Bandung, tempat ini masuk ke dalam daftar wajib kunjung !

Penampakan dari luar sih mallnya keren banget, bahkan ada hotel juga di area mall tersebut, makanya areanya gede banget ! Motor pun kami parkirkan dan mulai masuk ke area mall.

Area mall dibagi menjadi dua, ada area outdoor yang asri dengan rimbun pepohonan, ada juga bagian indoor dengan berbagai macam outlet dan restaurant.

Puas berkeliling, berhubung jam makan siang dan kami lapar, maka atas ajakan Diki, kami pun memutuskan makan siang di Warung Upnormal. Warung Upnormal sangat terkenal di kalangan anak gaul, karena menu-menu mie yang ditawarkan katanya sih inovatif.

Memasuki areanya, suasana dan dekorasinya sih keren banget, banyak ornamen kayu dengan hiasan – hiasan dinding yang instaable banget. Suasana lampu yang temaram juga menambah kesan cozy dari tempat ini.

Kami memilih duduk di area merokok di lantai 2, yang menghadap ke arah luar. Tidak lama waiter datang membawakan menu dan kertas orderan.

Duuh, harganya menurut gue sih lumayan ya, yah siapa tau aja sih rasa, tampilan, dan harga sebanding. Maka, Gue dan Diki pun segera memesan makanan dan minuman.

Tidak lama, makanan kami pun datang, dan ternyata tidak sesuai ekspektasi ! Mienya dingin, porsinya seuprit, dan tampilannya ga menarik banget. Duuh, berasa sebenarnya yang dijual oleh mereka adalah suasana tempatnya bukan makanannya. Untuk minuman sih ok, yang paling top dessertnya, alpukat kerok oreo emang mantab !

Kelar urusan di Upnormal, Diki berinisiatif ngajakin gue ke Gedung Sate. Buat yang belum tahu, Gedung Sate juga termasuk dalam daftar wajib dikunjungi selama di Bandung. Gedung ini fungsinya sebagai kantor pusat pemerintahan Bandung.

Setelah berapa lama melaju di jalan, sampailah kami di Gedung Sate, dan ternyata….ZONK PEMIRSA ! Akses masuk menuju Gedung Sate ditutup, maka terpaksalah gue berpuas diri fotoan dari depan gerbang saja, sediiiih.



Dengan berat hati, gue dan Diki beranjak dari Gedung Sate. Perjalanan kami lanjutkan, buntu mau kemana lagi, gue request buat ke taman – taman kota aja. Gue penasaran dengan taman kota yang sempat masuk berita di TV, seperti contohnya Taman Jomblo.

Diki pun melaju motor menuju lokasi, tapi tiba di lokasi, ternyata taman yang dimaksud biasa aja, duuh sorry nih ya, subjectif penilaian gue, tapi serius biasa aja. Jauh dari kesan “wah” yang diberitakan.

Perjalanan mutar – mutar ga jelas keliling Kota Bandung terus berlanjut sampai ga berasa malam datang. Badan lelah dan perut mulai terasa lapar, efek makan siang ga maksimal di Upnormal.

Diki berinisiatif ngajakin gue ke warung tenda favorit dia, warung tenda yang katanya enak banget dengan pilihan menu yang cukup banyak.

Gue sih iya aja kalo urusan makan, selama enak, murah, dan ngenyangin *banyak maunya*.

Kami sampai di warung tenda yang dimaksud, dan gue segera memesan makanan. Saat memesan, surprise…..gue dikasi tahu ada menu jengkol di sana ! JENGKOL ! duuh lebay banget, tapi sumpah gue heboh soalnya penasaran, di Lombok kan ga ada jengkol.

Damn, ternyata jengkol itu enyaaaak ! Gue makan semur jengkol, duuh gurih banget, jengkolnya lembut. FYI, menurut gue, tekstur jengkol mirip banget sama kacang, dan asyiknya, jengkol ga bau kaya petai. Duuuh, jengkol gue fall in love !
Aah, puas rasanya seharian keliling Kota Bandung, memang sih ga ke semua wilayah dan tempat – tempat menariknya. Sengaja sih, biar masih ada “hutang” biar nanti bisa balik lagi ke Bandung.

Kalau kalian, gimana pengalaman pertama saat menginjakkan kaki di Kota Bandung?


Iklan

21 thoughts on “Menyusuri Asia Afrika Hingga Menjadi Anak Gaul Bandung !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s