Hutan Ku Dulu, Hutan Ku Kini


Aku bermalam di rimba, Di tepi sungai suara, Di buai kedamaian sempurna. Di kaki kayu raksasa, Di pudak batu perkasa, Ku rangkai puji bagi pencipta – Navicula, Di Rimba.

IMG_3259

hutan dan pepohonan

Mendengar kata “Hutan”, yang terbayang dibenak kalian pasti deretan pepohonan rimbun, gunung, atau bahkan mungkin tempat yang menyeramkan. Pun begitu, ketika gue pertama kali mendengar bahwa kami akan berkemah di hutan, terbayang tempat yang seram !

Pertama kali berkemah di hutan, saat gue ikutan Kemah Perdana yang diadakan ekskul Pencinta Alam di SMA gue. Pengalaman kala itu sungguh berkesan. Pertama kalinya bagi gue tiduran di tenda, pertama kalinya bagi gue nikmati api unggun sembari mendengar bunyi binatang – binatang malam bersahutan. Entah kenapa, kesan menyeramkan dari hutan, hilang dalam benang gue sejak saat itu.

Hutan penopang alam

Setelah pengalaman pertama kali tersebut, tak terhitung sudah berapa kali gue keluar masuk hutan, baik dalam rangka kegiatan pendidikan pencinta alam yang gue ikuti atau dalam rangka pendakian gunung, dan selalu, sejak pertama kali, hutan dan alam berhasil membuat gue terkesan.

Hutan yang lestari bikin happy

Alam selalu membuat jiwa gue merasa tenang, terutama saat gue menjelajah di hutan atau gunung, gue ga tahu kenapa, tapi serius deh, terasa damai saat ditengahnya. Dan dalam berkegiatan di hutan, banyak sekali pelajaran yang gue dapatkan. Tapi, yang paling penting, gue belajar bahwa hutan itu adalah penopang hidup.

Memelihara alam beserta isinya serta menggunakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya – poin kedua Kode Etik Pencinta alam Se-Indonesia

Image source from google

Bagi masyarakat daerah pinggir hutan, manfaat hutan sangat terasa. Selain bermukim di sekitar hutan, mereka juga memanfaatkan hasil hutan sebagai penyambung kebutuhannya, lahan subur yang ada di sekitarnya pun digunakan untuk bercocok tanam. Apakah manfaat hutan hanya bagi pencinta alam sebagai sarana belajar, hanya bagi masyarakat daerah pinggir hutan saja ? tentu tidak ! coba diingat sekarang, oksigen yang gue, elo, kalian semua hirup, dihasilkan dari mana?

Hutan tropis Indonesia menyimpan kekayaan hayati yang unik dan tidak tergantikan.

•    menyimpan cadangan air dan karbon

•    rumah bagi 3300-an spesies amphibi, burung, reptil dan mamalia

•    tumbuhnya tanaman obat dan biomedis

Sumber WWF Indonesia

Image source from google

Sayangnya, sekarang ini, kondisi hutan di Indonesia sangat memprihatinkan, terhitung darurat. Forest Watch Indonesia (FWI) menyatakan, laju deforestasi (penggundulan hutan) di Indonesia mencapai 1,13 juta hektare (ha) per tahun. Analisa FWI itu jauh lebih besar dari klaim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), yang menyebutkan sebesar 600.000 – 700.00 ha per tahun. Indonesia bahkan pernah tercatat dalam Guiness Book of Records sebagai negara dengan laju deforestasi paling tinggi di dunia pada awal 2000-an, yaitu sebesar 2 juta ha per tahun, sungguh bukan rekor dunia yang membanggakan.

Image source from google

Dalam lingkup yang lebih sempit, laju deforestasi di NTB pun tak kalah memprihatinkan. Akibatnya, bencana alam tak dapat dibendung. Banjir bandang di Sambelia, Sumbawa, hingga Bima adalah bukti nyata. Jika sudah terjadi, hanya duka dan saling menyalahkan yang ada.

Image source from google

Laju kerusakan hutan di Nusa Tenggara Barat dari tahun ketahun semakin parah, menurut Husnanidiaty Nurdin Kepala Dinas Kehutanan Pemprov NTB, dari luas hutan yang ada di seluruh wilayah NTB seluas 1.071.722,83 hektar yang terdiri atas hutan lindung seluas 449.141 hektare, hutan produksi 448.946 hektare, dan hutan konservasi 173.636 hektare. Sekitar 50 persen atau 555. 427 hektar merupakan lahan kritis dengan kata lain sudah parah, dengan rincian 154.358 hektar kategori kritis dan 401.609 hektar agak kritis., kerusakan hutan ini terjadi baik karena aksi pembalakan liar maupun perambahan oleh masyarakat tidak bertanggung jawab. Luasan kerusakan hutan pada tahun sebelumnya 2015 seluas 200.309 hektar kata Husnanidiaty Nurdin Kadis Kehutanan Pemprov NTB. Sehingga hitungan kumulatif laju kerusakan hutan dari tahun 2015 meningkat 60 persen pada tahun 2016, hampir 50 persen terjadi kerusakan hutan dari total luasan hutan NTB.

sumber : LBH Reform

Mungkin kalian bertanya, apa yang bisa gue perbuat utuk mengatasi masalah deforestasi ini? banyak sob ! elo bisa ikutan atau berinisiatif melakukan reboisasi, dimulai dari sedikit hingga berkelanjutan. Elo juga mulailah memilih, membeli, dan  menggunakan  produk-produk  kayu  dan  turunannya  seperti  kertas  dan  tisu  yang  diproduksi secara  lestari.

Kalau hal diatas menurut elo ribet, maka mulailah membantu menjaga kelestarian alam dan hutan kita dari hal kecil ya, seperti tidak buang sampah sembarangan, tidak berlebihan memanfaatkan sumber daya di hutan, serta tidak melakukan vandalisme.

“Take nothing but pictures.
Leave nothing but footprints.
Kill nothing but time.”

Leave No Trace philosophy

Hutan yang lestari adalah gambaran masa depan yang cerah loh. Jadi, mari menjadi penyelamat masa depan bersama, jangan sampai anak cucu kita nanti mau bernapas harus beli oksigen dalam kemasan dulu gegara hutan sebagai penghasil oksigen sudah lenyap #IniBaruNgeri.

Image source from google

Selamat Hari Hutan Sedunia, tunjukkan kepedulian dan aksimu, sekecil apapun pasti bermanfaat. Semoga hutan Indonesia dan dunia tetap lestari ijo royo – royo !

Image source from google

Lestari alamku lestari desaku
Dimana Tuhanku menitipkan aku
Nyanyi bocah-bocah di kala purnama
Nyanyikan pujaan untuk nusa

Gombloh – Lestari Alamku

21 Maret diperingati sebagai Hari Hutan Sedunia, maka Travel Bloggers Indonesia posting bareng tentang #HariHutan. Hutan adalah bagian dari ekosistem yang harus kita jaga bersama. Tunjukkan kepedulianmu dan mari jaga kelestariannya mulai sekarang.

Baca tulisan tentang semangat #HariHutan lainnya di sini

  1. Albert Ghana – Suatu Pagi di Hutan Desa Benowo, Purworejo
  2. Atrasina Adlina – Bumi semakin Kerontang, Hutan sering Ditebang
  3. Edy Masrur – Hutan Jati Sengsara Berbuah Cinta
  4. Firsta Yunida – International Day of Forests: Stories About The Forest
  5. Indri Juwono – Gemerisik Hutan Pinus Bandung
  6. Liza Fatiah – Hutan Wakaf, Sebuah Inisiatif untuk Menghijaukan Aceh
  7. Olive Bendon – Keluh Kesah Pepohonan
  8. Parahita Satiti – Cerita Hutan dari Tiga Perempuan
  9. Rey Maulana – Hutanku Dulu, Hutanku Kini
  10. Shabrina Koeswologito – Sustainable Travel: A Path Toward Sustainable Forestry
  11. Titiw Akmar – Hutan Itu Berharga. Hutan Itu Indonesia.
  12. Tracy Chong – World Forestry Day 2017: Why I Love Forest and You Should, too!
  13. Yofangga – Pleidoi si Penebang Hutan

Iklan

27 thoughts on “Hutan Ku Dulu, Hutan Ku Kini

  1. Parahita Satiti berkata:

    Setuju, Kak! Kalau belum bisa berkontribusi besar dalam menyelamatkan hutan dari penggundulan, sebagai individu kita tetap bisa ikut ambil bagian. So far, yang aku lakukan; nggak lagi pakai minyak goreng sawit dan mencari produk pengganti untuk produk-produk yang mengandung sawit (sabun mandi, selai cokelat, dll), mengurangi pemakaian kertas dan tisu (penting banget cek produsen tisu yang ramah hutan).

    Disukai oleh 1 orang

  2. khairulleon berkata:

    Ikut sedih kalo liaty hutan rusak.
    jangankan kebarakaran, kalo ada orang yang buang sampah di hutan aja aku sudah geram.
    terutama saat naik gunung dan lewati hutan, pasti ada aja sampah yang berserakan,

    Suka

  3. indrijuwonottp berkata:

    Kyoto Protocol tahun 1995-2005 gagal, karena banyak negara yang tidak berani meratifikasi akan bertanggung jawab atas kenaikan suhu udara beberapa tahun itu akibat ketidakmampuan mengontrol eksplorasi energi. Nah, kebanyakan itu dilakukan dengan mengorbankan hutan yang butuh waktu lama untuk dipulihkan lagi.
    Tahun lalu ada Paris Agreement yang bersepakat untuk menjaga supaya suhu global tidak naik lebih dari 2 derajat, dan thank USA (Obama) mau meratifikasi secara sumbang polusi mereka sekitar 17% dari dunia. Salah satu caranya memang menjaga hutan supaya sustainable.

    Suka

  4. Fanny f nila berkata:

    Sedih liat hutan kita makin tipis begitu.. Kalo di kantorku mas, yg kita lakuin sih, hanya membeli kertas dari perusahaan yg punya sertifikat kalo dia menanam kembali pohon yg ditebang. Aku lupa sih nama sertifikatnya, tp di indo memang blm bnyk perusahaan yg begitu. Dan ini perintah dr kantor pusat di London.. Utk menjaga kelestarian hutanlah. Walo hrg kertasnya memang jauuh lbh mahal, tp kantorku mau ga mau hrs ikutin, krn kalo sampe ketahuan ama audit dr kantor pusat, bisa kena sanksi ntr 😀

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s